Sabtu, 16 Oktober 2010

Nikahi Aku, dengan Semesta Ilmu

Debar jantungku seakan tak mau berhenti, dag…dig…dug…ritmenya lebih cepat dari biasanya, menunggu saat-saat pintu langit terbuka menyambut gembira dua insan bersatu menggenapkan kesempurnaan din dalam janji suci pada Sang Ilahi. Malaikat pun bertasbih, langit menampakan keindahannya pagi ini menjadi saksi pernikahan kami, sunyi dalam ruang masjid penuh hidmat, Pak Penghulu memulai aji nikah,
“Saya nikahkan saudara Muhammad Andromeda Fahrizi bin Muhammad Bima Sakti dengan mas kawin Al-Qur’an beserta seperangkat alat sholat, uang satu juta, dan buku Sirah Sahabiah, Saya terima nikah dan kawinnya untuk diri Saya, Afifah Zahra Aurora binti Gema Putra Langit di bayar tunai.” Lanjut suami saya mantap
“Alhamdulillah”, lega hatiku melewati detik-detik mendebarkan dalam ruang semesta hatiku begitu juga para tamu undangan yang datang pada akad nikah kami.
Seusai akad nikah itu, disampaikan nasihat pernikahan oleh Ust. Ahmad guru ku sebelumnya dibacakan surat cinta dari langit, Firman Allah (Ad Dukhan 51-54).
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman. Di dalam taman-taman dan mataair-mataair. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah..dan kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli.”
Dilanjutkan dengan nasihat pernikahan, yang beliau sampaikan, penuh haru, tak terasa air mata menetes di pipiku, tanganku refleks meminta kekuatan pada seseorang yang kini sangat berarti buatku, suamiku, dia mengerti gerak tanganku, dia menjabat tanganku menguatkan. Seakan hati kami bicara,
 “Sayang kita lewati suka, duka ini bersama, membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah bersama di jalan cinta langit, dengan naungan kasing sayang semesta, bantu aku sayang untuk menjadi suami yang soleh, begitu juga suara hatiku, sayang bantu aku juga menjadi bidadari bermata jeli itu”. Ketenangan para tamu undangan yang mendengarkan nasihat pernikahan itu melengkapi susana saat itu.
Tak kuat tangisku menganak sungai, kalau tak ingat aku sedang memakai kedok dandanan bak ratu sejagad, rasanya ingin meneruskan tangisan ini, bersandar di peluknya dalam kehangatan cintanya. Ucapan selamat menghujaniku hari ini, kecupan sayang dari karib kerabat melayang di pipiku. Beberapa lirih berbisik di telingaku “selamat menempuh hidup baru, jadilah istri soleha, sahabatku.” Ada juga yang menjabat erat penuh makna seakan berbicara “Aku senang melihatmu bahagia sahabatku, selamat bekerja dengan cinta untuk suamimu.” Rasanya bahagia sekali melihat senyum-senyum kebahagian penuh doa untukku.
Siang mulai berganti malam, suara penyerumu telah diperdengarkan, langit malam dan bulan dalam mahkota peraduannya, menjadi saksi leburnya cinta kami. Malam pertama dengan dia suamiku, Muhammad Andromeda Fahrizi degup jantung ini kembali berdetak sangat kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Dzikirku tak henti-henti untuk menghelanya, “Ya Allah dekap aku dengan cinta dan kasih sayangmu, ijinkan aku membawaMu bersama ku dan dia untuk meleburkan cinta kami di malam ini.” dalam kamar aku menunggu setelah mempersiapkan diri. Suara ketokan pintuk berbunyi,
“Tuk…tuk…tuk…! tiga kali ku hitung sunnah sekali dengan keganjilannya
“Assalamualaikum…,” suara yang sangat ku kenal
Degup semakin kencang “Waalaikumussalam...,” ku jawab dengan pelan
“Assalamualaikum, Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, wahai suamiku, masuklah! Aku sudah menunggumu!”
Mendekatiku dengan tatapannya yang tajam, hatiku semakin tak karuan, yang kubalut dengan senyuman menegangkan, mungkin dia juga dapat merasakan keteganganku. Semakin dekat, semakin dekat, lalu dia berkata dengan lembut,
 “Sayang, kita sholat dulu!” perintahnya
“Ya” sambil ku beranjak dari tempat tidur pengantin kami
Kami shalat dua rakaat berjamaah bersama, cinta langit mengiringi kami malam ini, sebelumnya kami berbincang untuk merilekskan diri satu sama lain,
“Sayang, maukah kau mendengarkan sebuah kisah” sambil mengambil posisi duduk yang nyaman aku tepat berada dalam pelukannya dan suamiku berada di belakangku sambil bersandar ke mahkota tempat tidur kami.
“Apa sayang, tentang?”  rasa penasaranku
“Bidadari bermata jeli itu” katanya sambil melayangkan senyuman padaku
“Ini kisah yang diriwayat oleh Al Imam Ath Thabrani sebuah hadits dari Ummu salamah, bahwa ia Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah padaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”
“Lalu Rasul menjawab apa yang?” tanyaku
“ Penasaran ya?” sambil mencolek hidungku bercanda
“Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”
“Ehm…lalu, apa lagi yang ditanyakannya?”
“Aku (Ummu salamah) berkata lagi, “Jelaslah padaku ya Rasulullah, tentang firmanNya : Laksana mutiara yang tersimpan baik (Al-Waqi’ah 23)..!”
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia…”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah : Di dalam syurga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (Ar-Rahman 70)…!
Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Aku bertanya lagi, “Jelaskanlah padaku firman Allah : Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash Shaffat 49)…!
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung darikulit bagian luarnya, atau biasa yang disebut putih telur.”
Semakin mengharukan kisah yang diceritakannya, lalu aku menciumnya sambil berkata
“Terima kasih yang, telah menikahi aku dengan semesta ilmu yang kau miliki”
“Sama-sama yang, kau telah menerima ku dengan keikhlasanmu” dia juga menciumku
“Mau dilanjutkan?”
“Mau yang, bisakah aku menjadi seperti bidadari itu?”
“Tentu bisa, yang” jawabnya menyakinkanku
“Lalu Ummu salamah bertanya lagi” suamiku melanjutkan ceritanya
Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah: Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al Waqi’ah 37)…!”
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Tak terasa aku tertidur lelap sekali, malam itu terlewatkan begitu saja. Dalam pelukan hangatnya aku tidur dengan nyenyaknya sampai pagi datang. Aku terbangun melihat jam tepat menunjukkan pukul 03.00 pagi posisi kami tidak berubah aku masih dalam dekapan suami ku, begitu juga suamiku masih setengah terduduk.
“Yang, bangun shalat tahajut dulu yuk!” ajakku
“Kenapa tak membangun kan ku saat aku tertidur mendengar ceritamu semalam?”
“Gak tega, sepertinya kau terlihat sangat lelah sekali, untuk bergerak pun aku tak ingin, khawatir membangun kan mu, sayang.”
“Oh…Suamiku, so sweet, maafkan aku sayang!”
“Tidak apa-apa, sayang, yuk kita shalat dulu!”
Bersamanya ku merasakan ketentraman, Allah telah memeluk mimpi-mimpiku bersamanya. Perjalanan kami masih panjang untuk menyelami dalamnya semesta ilmu yang kami satukan untuk dipahami, dipelajari untuk perpadu melangkah bersama mengarungi alam raya ini. Seperti dalam untaikan kata Salim A Filah kami bersama untuk mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi dengan sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.
Weny Rosmaya
Di Atas Bumi Cinta




Tidak ada komentar:

Posting Komentar