Sabtu, 16 Oktober 2010

Ingin Dia Bahagia


Ingin Melihat Dia Bahagia

Pagi yang cerah ni tak secerah hati-hati yang terluka oleh kata-kata dan amarah. Pelajaran yang membuat Amanda semakin ingin terus belajar dan memahami sebuah Universitas Rumah Tangga yang kelak kan ku alami nanti. Pengalaman memang guru terbaik, tapi tak selamanya pengalaman itu harus kita alami sendiri, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Dia yang aku sayangi, hatinya terluka, kecewa, marah, bahkan menangis. Walau aku tak tahu jelas apa yang ada di hatinya, aku hanya ingin meraba hatinya yang terdalam, mencoba empati atas peristiwa ini. Perpisahan memang suatu hal yang menyedihkan tapi ini mungkin lebih baik untuk suatu kasus-kasus tertentu. Pernikahan selalu menarik untuk di perbincangkan dari mulai bahagia sampai permasalahannya. Inilah pengalaman yang dapat ku ambil hikmah dan pelajarannya. Dia berpisah dengan istrinya dan buah hatinya  Silvia althofunnisa. Dua tahun pernikahannya ini, selau saja ada masalah yang ku dengar ketika ku pulang ke rumah. Memang ku liat Dia setelah menikah bukannya makin gemuk malah makin kurus,lusuh, kummel, kucel bagai tak terawat ironis memang,sudah punya istri ko malah seperti ini.
Pernikahan dan menjalaninya bukan suatu hal yang mudah untuk dilalui tanpa ilmu dan kesabaran. Untuk mempersiapkannya butuh banyak belajar apa itu pernikahan, bagaimana cara membangunnya, menjaganya, meronovasinya agar semakin indah.  Menikah bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda tapi juga dua keluarga besar. Bagaimana bisa terbangun baik tanpa ilmu. Keluarga bak negara, negara dalam lingkup kecil bukan? Siapkah aku nanti membangun rumah taqwaku sendiri? Takutkah aku untuk meangkah nantinya dengan pengalaman pahit yang ada di hadapanku sekarang?
Aku mungkin seakan-akan tak memikirkan apa-apa karena aku jauh. Tapi aku memikirkan kondisi Dia. Apakah dia bahagia? Tertekankah dia? Tertekankah ia hingga kurus seperti itu? Ya Allah rasanya aku ingin sekali bicara berdua saja dengannya dari hati ke hati, jujur  dengan apa yang ia rasakan.
Malam itu dia mengunjungiku, ingin bercerita sejenak katanya sambill mengambil usaha yang ku tawaran untuknya.
“De pengen cerita dulu, boleh gak?”
“Ada apa A’, Apa tadi ketemu dia dulu?” perlahan dia mulai bersandar
Terlihat dia sepertinya sangat lelah sekali dengan semua kejadian ini,
“Ya Allah kuatkan dia, jadikan ini salah satu tarqiyah dari mu ya Allah, jadinya dia dewasa dengan semua ini.” terbawa suasana aku menangis padahal tak boleh sepeti ini, Aku justru harus bisa menguatkannya tapi aku tak bisa menahan ini keluar dari cela mataku.
De, Aa gak mau kehilangan neng untuk selamanya...! lirih dalam bicaranya 
Semakin membuatku menangis dengan kata-katanya yang mungkin dari hatinya yang paling dalam. Amanda semakin berfikir inikah rumah tangga dengan segara pernak-pernik masalah dan cobaan yang akan menghadangnya. Butuh kedewasaan dan pemahaman bagaimana kelak harus bersikap, so siapkan diri untuk jadi istri yang soleha dari sekarang.


Di atas Bumi Cinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar