Saat mata mulai mengantuk, tubuh yang ingin segera disandarkan dan direbahkan tetapi malu rasanya kalah dengan lelaki setengah baya yang kini ada dihadapku, Beliau begitu bersemangat untuk memberikan kami pengajian, di tengah-tengah aktifitas tingkat tinggi beliau sedangkan aku yang hanya lelah dengan rutinitas sederhana saja sudah mengeluh lelah, ngatuk. “Gimana sih katanya mau jadi wanita tangguh, begini saja mengeluh, iya..iya jadi akhwat muslimah kan gak boleh banyak mengeluh ya” bisik hatiku. Seperti Siti Hajar yang di tinggal Nabi Ibrahim di tengah padang pasir yang sangat tandus dengan seorang bayi pula. Subhanallah keteguhan beliau. Kisah itu selalu menginspirasiku untuk selalu tetap bertahan dalam kondisi sepahit apapun dalam hidupku.
“Azamkan diri untuk menyimaknya dengan semangat” Ujar hatiku sambil membenarkan posisi dudukku yang nyaman agar tidak cepat lelah atau bahkan tertidur.
“Kalau wanita boleh saja meminta lelaki sholeh untuk jadi suaminya, tapi tetap yang menghitbah itu ya laki-laki, masa hitbah dari perempuan.” Khadijah aja meminta Rasulullah untuk menjadi suamunya ko, lewat pamannya. Jangan malah ada laki-laki ngetag akhwat, ini yang gak bener” Kata Ust dalam pengajian rutinan di kostan semalam.
Ketika mendengar ini berbinar kembali, jadi teringat salah satu ikhwan, menjelang subuh menelp dari tempat yang jauh disana. Pagi buta menjelang subuh saat selesai sholat tahajut, suara dering handphone ku berbunyi, ku lihat Al Akh. Aneh ada apa gerangan dia menelpku pagi-pagi buta seperti ini, ada ragu untuk mengangkatnya. “Tapi khawatir penting, untuk disampaikan” bisik hatiku.
“Assalamualaikum, afwan ukh ganggu gak?”
“Waalaikumussalam, ada apa ya? Penting tidak?” jawabku tegas
“Penting ukh!”
“Ya ada apa, jangan bertele-tele ya to the point!” pintaku
“Ini ukh, ana ingin anti jadi istri ana, tapi nanti dua tahun lagi, ana magang di pelayaran” nadanya penuh hati-hati. Khanza hanya diam saat itu dan mematikan handphone yang di genggapnya. “Enak aje, sopan betul tuh ikhwan, ngetag, ngetag ane, emangnye ane apaan” ngedumel khanza. Langsung meng-sms ikhwan itu “afwan, ane gak bersedia tunggu ente, silahkan cari yang lain!” seru khanza dengan tegas dari nada sms nya. Aku harus tegas kaya nyanyian tim nasyid akhwat “AVI” yang aku ngefans yang suka membawakan lagu ini, walau tidak pernah taw siapa penyanyi aslinya.
Ketegasanmu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibisakannya
Ikhwan-ikhwan yang seperti ini, enak saja segampang itu memesan memangnya di restoran bisa ngetag tempat duduk. Seruan suara memecahkan lamunannya, “za…za mau gak ni singkong kejunya.” Nuri mengoyakan tubuh ku yang dari tadi dipanggil tak berkutik.
“Ye, malah bengong dengerin tuh Ustad tausiyah.” Celetuknya padaku.
“Iya..iya dengerin ko, cumalagi inget sesuatu aja dari yang Ustad sampaikan tadi.”
“Mulai deh imajinasinya kambuh liarnya.” Gerutunya padaku kesal
Makanan cemilan di saat ta’lim memang selalu setia menemani pengajian rutinan kami, untuk sekedar mengusir kantuk dan penyemangat. Ustad memang baik sekali, bersyukur bisa menikmati kebersamaan ini di bawah bimbingan beliau dan Ibu Yudi.
“Ingat gak salah satu kisah sahabiah Hafsah yang dengan ayahnya ditawarkan kepada sahabat untuk menikahinya?” Ust mengetest kepahaman kami tentang kisah sahabiah
Beliau memang sudah memfasilitasi kami dengan perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku keakhwatan salah satunya adalah shirah sahabiah, di kostan. Subhanallah, beliau memang dermawan sekali untuk masalah ilmu dan dakwah.
Ada yang bersemangat menjawab, “Itu ya Ustad, kepada Utsman bin Affan dengan Abu Bakar.”
“Iya bagaimana kisahnya, waktu itu ayahnya Hafshah Umar ra. mendatangi rumah Utsman bin Affan untuk menawarkan Hafsah kepadanya. Lalu, Utsman menolaknya dengan berkata “Nantilah saudaraku, saya akan pikir-pikir dulu”. Saat itu istri Utsman, Ruqayyah binti Rasulullah baru saja meninggal dunia. Setelah mendengar jawaban itu beliau pergi menemui Abu Bakar, Dia berkata “Jika engkau bersedia, aku akan menikahkanmu dengan Hafsah?” Abu Bakar hanya diam saja. Kemudian akhirnya Rasulullah lah yang akhirnya menikahi Hafsah untuk mengobati luka hatinya atas penolakan kedua sahabatnya. Umar mengadu kepada Rasulullah SAW. atas penolakan itu Rasulullah hanya tersenyum dan menghibur kegundahannya “Umar dengan bersabda, ‘Mudah-mudahan, putrimu dikaruniai Allah seorang suami yang lebih baik dari keduanya. Dan mudah-mudahan, ;Utsman dikaruniai seorang istri yang lebih baik daripada Hafshah.’ Tak lama kemudian, Hafshah dipersunting Rasulullah, jelas bahwa Rasulullah jauh lebih baik dari Utsman dan Abu Bakar seperti doanya Rasulullah. Dan tak lama kemudian Utsman menikah dengan Ummu Kulsum binti Rasulullah yang tentu lebih baik daripada Hafshah. Inilah seharusnya kewajiban seorang ayah untuk menikahkan anaknya kepada laki-laki yang soleh, ya?” dengan gaya Ust. Ahmad mengisahkan terdengar mantap dan bersemangat.
“…Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik…” (Q.S. An Nur : 26)
“Maka dari sekarang lah kalian harus mempersiapkan diri menjadi wanita yang solehah iya.” Nasihat Ust. saat ta’lim seakan benar-benar seorang ayah yang sedang mempersiapkan anak-anaknya menjadi wanita yang berkualitas.
Hiks…hiks…jadi pengen nangis keingatan sama ayah. Pernah suatu sore saat kami jalan-jalan perbincangan sederhana dengan ayah, “Yah aku gak akan pernah bisa malangkah ke jenjang pernikahan tanpa keikhlasan darimu yah, dan restu darimu” sambil melayangkan senyuman penuh manjaku pada ayah. Ayah tersenyum sambil merangkulku.
“Mba…Mba kenapa nangis?” tegur adikku melihatku mengeluarkan air mata
“Gak de, cuma terharu aja denger kisah Hafshah yang di certain Ustad” sambil menyeka mataku dan tersenyum
“Mba Quy…” Aliya sambil mengelus bahuku menguatkan
Inilah mengapa aku selalu mengambil posisi di belakang saat ta’lim, entahlah akhir-akhir ini mudah tersentuh, gampang sekali menangis. Malu kan kalau di depan duduknya deket Ustad kalau aku terharu dan menangis di depannya. Malam kian melekat akhirnya ta’lim selesai juga, bisa merenahkan tubuh ke peraduannya, kasur yang empuk dan nyaman sekali. Besok harus bangun pagi-pagi sholat tahajut.
***
Bergegas untuk pergi mengunjungi ayah, di tempat yang sebenarnya sangat tidak aku sukai PENJARA. Mungkin kenapa akhir-akhir ini kenapa aku mudah sekali tersentuh karena kondisi ayah sekarang. Ayah di tuduh menggelapkan uang bangunan rumah bosnya, entah berapa besarnya aku tak pernah tau. Ayah selalu tertutup untuk masalah-masalahnya, kejadian ini saja sempat membuatku shock, saat polisi datang kerumahku untuk menjemput Ayah siang itu,saat kami baru selesai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
Pintu bel berbunyi “ting..nong…ting…nong…ting..nong…” Aku bergegas turun
Aku tersentak kaget dua orang berbaju seragam kepolisian datang kerumah ku. “Ada Bapak Adi di rumah kami membawa surat perintah penangkapan terhadap Bapak Adi.” Tegasnya sambil memberikan surat itu padaku. Lututku serasa lemas tak kuasa untuk berdiri aku terduduk lemas terpaku di tempatku berdiri depan pintu. Ibuku turun dengan ayahku, Ibuku merangkulku memelukkku, aku merasakan ketakutannya juga tapi ia lebih kuat dari aku. Mungkin karena ibuku sudah tau masalahnya, sedangkan aku tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya saya pak, Adi" kata ayah tanpa ada nada kesedihan sepetinya ayah memang sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk ini.
"Bun, jaga anak-anak ya!" Ayah mencium Bunda
"Khanza, jaga Bunda, maafin ayah, nak!" memelukku dan menciumku sedangkan aku masuk mematuk berlutut dalam duduk simpuhku. Menangis pun tidak, seperti patung hidup saat itu.
"LP Cipinang...LP Cipinang" suara kondektur membuyarkan lamunanku siang pahit itu. Bergegas berdiri, bersiap untuk turun,mengyeka air mata yang tak terasa membasahi pipiku.
"Bang kiri ya!"
Memasuki Penjara itu untuk menjenguk ayahku, membawa sejuta rindu. Pelukan berhambur di tuhku Ayah, dia kurus sekali disini. Wajahnya semakin menua. Aku menangis melihat keadaannya dan berkata,
"Ayah sehat?"
"Sehat, nak?"
"Gimana kuliahmu?"
"Baik yah, mohon doanya yah, aku sekarang sambil kerja jadi penulis cerpen di salah satu majlah"
"Oh ya, Alhamdulillah"
"Yah, ni untuk ayah" sambil ku berikan beberapa bungkusan buah-buahan dan beberapa makanan kesukaan ayah yang ku beli dari gaji pertamaku.
Khanza, maafkan ayah nak, apakah nanti akan ada laki-laki yang menikahimu dengan kondisi ayah yang seperti ini? ayah tiba-tiba bicara hal itu terdengar lirih dalam nada bicaranya.
"Yah, jangan risau, insyaallah akan ada laki-laki yang dengan ikhlas menikahiku sekalipun kondisi ayah seperti ini, dan dia adalah laki-laki yang berhati berhati bersih. sekalipun Allah tidak mempertemukanku di dunia, kelak aku akan dipertemukannya di akhirat." sambil ku sandarkan kepalaku di bahu ayah saat seperti ini yang selalu ku rindukan. Bercengkerama dengannya, bersandar di bahunya.
"Ayah ni ku bawakan buku bacaan untuk ayah, dan buku tulis dan pulpen yang ayah suka, ayah juga suka menulis kan?" Ku belikan ayah buku La Tahzan (jangan bersedih)
"Dulu nak, waktu masih muda" sambil tersenyum padaku
"Yah, tulislah apa yang Ayah rasakan selama disini, siapa taw itu bisa jadi inspirasiku untuk menulis."
"Yaw sudah nak, terima kasih ya1"
"Yah, aku mapit ya, oh ya salam dari bunda, salam rindu katanya."
"Sampaikan juga salam rindu ayah untuk Bunda"
"Yah, terus mendekatlah sama Allah ya yah, Aku sayang ayah."
Aku pamit, pergi meninggalkan ayah, tepat dengan waktu berkunjung yang diberikan penjaga penjara itu sebelum aku masuk tadi. Aku menahan tangis dari tadi, aku tidak mau menangis di depan ayah, aku tidak mau menambah beban fikirannya. Aku hanya ingin, Ayah tau bahwa aku dan Bunda baik-baik saja.
Di ata Bumi Cinta
Weny Rosmaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar