Aku Ingin Dia Bangkit, Berjaya bahkan berarti di setiap hati
Aku telahir disini, Di jiwa ini, Jiwa syiar
Disaat teman-teman yang lain nongkrong atau sekedar jalan-jalan
Tapi aku di balik hijab itu, merumuskan, dan mengambil sebuah kesepakatan
Tanpa tau siapa teman-teman ku, bagaimana dia, seperti apa dia
Kami tertutupi oleh hijab, tak kenal wajah bahkan rupa
Aneh, bagaimana kemudian hati-hati itu bisa bersemangat
Bersatu dalam gerak, dan tujuan
Ya, inilah jiwa kami, jiwa syiar
Rohis SMA 5 Jakarta, Aku terlahir disini
Kemudian tumbuh dan berkembang, bahkan matang, disini
Di Jalan Cinta Para Pejuang
Jiwa-jiwa yang lahir, kini tumbuh dan berkembang
Ku rasakan nikmat, indah, dan haru dalam sakit bersama
Bukan dari kebersamaan jasad semata
Tetapi ruh-ruh kami yang disatukan dalam cinta
Cinta pada Sang Maha Cinta semata
Cinta telah bergelora dalam jiwa-jiwa kami
Jiwa syiar, untuk menyeru, bersuara, mengingatkan
Seperti Rasulullah yang tidak pernah berhenti menyeru, walau disakiti, dan dilukai
Rindu kami untuk mentauladani menyeru
Pada kalian wahai sahabat-sahabat sekalian
Walau kami sadari, Hidayah hanya MilikNya, kuasaNya
Kami tak boleh lelah, apalagi mati untuk mengantarkan sentuhan islam
Dalam hati-hati kalian dan hati-hati kami jiwa syiar
Aku ingin “Dia” Bangkit, Berjaya, bahkan berarti di hati kalian sahabat
Dia dialah, jiwa syiar itu!
Dengan hati kan “Dia” sentuh jiwa-jiwa itu!
Aku jadi mengerti dan sangat mengerti
Kenapa orang-orang yang berhati lembut ditempatkan Allah disini
Karena kami menyeru dengan hati dengan kelembutan
Seperti Rasululullah dalam menyeru walau dengan orang kafir sekalipun
Beliau lembut, dan keras bagi kafir yang memerangi
Subhanallah akhirnya aku mengerti dan ikhlas
mengapa orang-orang lembut di tempatkan di sini
karena kami menyeru dengan hati dan kelembutan
Bukan karena keterpaksaan, bahkan perintah
Aku mengerti kenapa yang dapat bertahan hanya kami
Karena kami jiwa-jiwa syiar karena masuk tersentuh oleh kelembutan
bukan keterpaksaan atau perintah
dan yang pergi dan menghilang, entahlah
Semoga Allah mengkaruniani hati-hati mereka dengan kelembutan.
Akhirnya aku mengerti, terima kasih ya Allah
Di Atas Bumi Cinta,
IPB Dramaga Bogor
Weny Rosmaya
Rabu, 20 Oktober 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
Aku Harus Tegar, setegar Hajar!
Saat mata mulai mengantuk, tubuh yang ingin segera disandarkan dan direbahkan tetapi malu rasanya kalah dengan lelaki setengah baya yang kini ada dihadapku, Beliau begitu bersemangat untuk memberikan kami pengajian, di tengah-tengah aktifitas tingkat tinggi beliau sedangkan aku yang hanya lelah dengan rutinitas sederhana saja sudah mengeluh lelah, ngatuk. “Gimana sih katanya mau jadi wanita tangguh, begini saja mengeluh, iya..iya jadi akhwat muslimah kan gak boleh banyak mengeluh ya” bisik hatiku. Seperti Siti Hajar yang di tinggal Nabi Ibrahim di tengah padang pasir yang sangat tandus dengan seorang bayi pula. Subhanallah keteguhan beliau. Kisah itu selalu menginspirasiku untuk selalu tetap bertahan dalam kondisi sepahit apapun dalam hidupku.
“Azamkan diri untuk menyimaknya dengan semangat” Ujar hatiku sambil membenarkan posisi dudukku yang nyaman agar tidak cepat lelah atau bahkan tertidur.
“Kalau wanita boleh saja meminta lelaki sholeh untuk jadi suaminya, tapi tetap yang menghitbah itu ya laki-laki, masa hitbah dari perempuan.” Khadijah aja meminta Rasulullah untuk menjadi suamunya ko, lewat pamannya. Jangan malah ada laki-laki ngetag akhwat, ini yang gak bener” Kata Ust dalam pengajian rutinan di kostan semalam.
Ketika mendengar ini berbinar kembali, jadi teringat salah satu ikhwan, menjelang subuh menelp dari tempat yang jauh disana. Pagi buta menjelang subuh saat selesai sholat tahajut, suara dering handphone ku berbunyi, ku lihat Al Akh. Aneh ada apa gerangan dia menelpku pagi-pagi buta seperti ini, ada ragu untuk mengangkatnya. “Tapi khawatir penting, untuk disampaikan” bisik hatiku.
“Assalamualaikum, afwan ukh ganggu gak?”
“Waalaikumussalam, ada apa ya? Penting tidak?” jawabku tegas
“Penting ukh!”
“Ya ada apa, jangan bertele-tele ya to the point!” pintaku
“Ini ukh, ana ingin anti jadi istri ana, tapi nanti dua tahun lagi, ana magang di pelayaran” nadanya penuh hati-hati. Khanza hanya diam saat itu dan mematikan handphone yang di genggapnya. “Enak aje, sopan betul tuh ikhwan, ngetag, ngetag ane, emangnye ane apaan” ngedumel khanza. Langsung meng-sms ikhwan itu “afwan, ane gak bersedia tunggu ente, silahkan cari yang lain!” seru khanza dengan tegas dari nada sms nya. Aku harus tegas kaya nyanyian tim nasyid akhwat “AVI” yang aku ngefans yang suka membawakan lagu ini, walau tidak pernah taw siapa penyanyi aslinya.
Ketegasanmu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibisakannya
Ikhwan-ikhwan yang seperti ini, enak saja segampang itu memesan memangnya di restoran bisa ngetag tempat duduk. Seruan suara memecahkan lamunannya, “za…za mau gak ni singkong kejunya.” Nuri mengoyakan tubuh ku yang dari tadi dipanggil tak berkutik.
“Ye, malah bengong dengerin tuh Ustad tausiyah.” Celetuknya padaku.
“Iya..iya dengerin ko, cumalagi inget sesuatu aja dari yang Ustad sampaikan tadi.”
“Mulai deh imajinasinya kambuh liarnya.” Gerutunya padaku kesal
Makanan cemilan di saat ta’lim memang selalu setia menemani pengajian rutinan kami, untuk sekedar mengusir kantuk dan penyemangat. Ustad memang baik sekali, bersyukur bisa menikmati kebersamaan ini di bawah bimbingan beliau dan Ibu Yudi.
“Ingat gak salah satu kisah sahabiah Hafsah yang dengan ayahnya ditawarkan kepada sahabat untuk menikahinya?” Ust mengetest kepahaman kami tentang kisah sahabiah
Beliau memang sudah memfasilitasi kami dengan perpustakaan yang lengkap dengan buku-buku keakhwatan salah satunya adalah shirah sahabiah, di kostan. Subhanallah, beliau memang dermawan sekali untuk masalah ilmu dan dakwah.
Ada yang bersemangat menjawab, “Itu ya Ustad, kepada Utsman bin Affan dengan Abu Bakar.”
“Iya bagaimana kisahnya, waktu itu ayahnya Hafshah Umar ra. mendatangi rumah Utsman bin Affan untuk menawarkan Hafsah kepadanya. Lalu, Utsman menolaknya dengan berkata “Nantilah saudaraku, saya akan pikir-pikir dulu”. Saat itu istri Utsman, Ruqayyah binti Rasulullah baru saja meninggal dunia. Setelah mendengar jawaban itu beliau pergi menemui Abu Bakar, Dia berkata “Jika engkau bersedia, aku akan menikahkanmu dengan Hafsah?” Abu Bakar hanya diam saja. Kemudian akhirnya Rasulullah lah yang akhirnya menikahi Hafsah untuk mengobati luka hatinya atas penolakan kedua sahabatnya. Umar mengadu kepada Rasulullah SAW. atas penolakan itu Rasulullah hanya tersenyum dan menghibur kegundahannya “Umar dengan bersabda, ‘Mudah-mudahan, putrimu dikaruniai Allah seorang suami yang lebih baik dari keduanya. Dan mudah-mudahan, ;Utsman dikaruniai seorang istri yang lebih baik daripada Hafshah.’ Tak lama kemudian, Hafshah dipersunting Rasulullah, jelas bahwa Rasulullah jauh lebih baik dari Utsman dan Abu Bakar seperti doanya Rasulullah. Dan tak lama kemudian Utsman menikah dengan Ummu Kulsum binti Rasulullah yang tentu lebih baik daripada Hafshah. Inilah seharusnya kewajiban seorang ayah untuk menikahkan anaknya kepada laki-laki yang soleh, ya?” dengan gaya Ust. Ahmad mengisahkan terdengar mantap dan bersemangat.
“…Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik…” (Q.S. An Nur : 26)
“Maka dari sekarang lah kalian harus mempersiapkan diri menjadi wanita yang solehah iya.” Nasihat Ust. saat ta’lim seakan benar-benar seorang ayah yang sedang mempersiapkan anak-anaknya menjadi wanita yang berkualitas.
Hiks…hiks…jadi pengen nangis keingatan sama ayah. Pernah suatu sore saat kami jalan-jalan perbincangan sederhana dengan ayah, “Yah aku gak akan pernah bisa malangkah ke jenjang pernikahan tanpa keikhlasan darimu yah, dan restu darimu” sambil melayangkan senyuman penuh manjaku pada ayah. Ayah tersenyum sambil merangkulku.
“Mba…Mba kenapa nangis?” tegur adikku melihatku mengeluarkan air mata
“Gak de, cuma terharu aja denger kisah Hafshah yang di certain Ustad” sambil menyeka mataku dan tersenyum
“Mba Quy…” Aliya sambil mengelus bahuku menguatkan
Inilah mengapa aku selalu mengambil posisi di belakang saat ta’lim, entahlah akhir-akhir ini mudah tersentuh, gampang sekali menangis. Malu kan kalau di depan duduknya deket Ustad kalau aku terharu dan menangis di depannya. Malam kian melekat akhirnya ta’lim selesai juga, bisa merenahkan tubuh ke peraduannya, kasur yang empuk dan nyaman sekali. Besok harus bangun pagi-pagi sholat tahajut.
***
Bergegas untuk pergi mengunjungi ayah, di tempat yang sebenarnya sangat tidak aku sukai PENJARA. Mungkin kenapa akhir-akhir ini kenapa aku mudah sekali tersentuh karena kondisi ayah sekarang. Ayah di tuduh menggelapkan uang bangunan rumah bosnya, entah berapa besarnya aku tak pernah tau. Ayah selalu tertutup untuk masalah-masalahnya, kejadian ini saja sempat membuatku shock, saat polisi datang kerumahku untuk menjemput Ayah siang itu,saat kami baru selesai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
Pintu bel berbunyi “ting..nong…ting…nong…ting..nong…” Aku bergegas turun
Aku tersentak kaget dua orang berbaju seragam kepolisian datang kerumah ku. “Ada Bapak Adi di rumah kami membawa surat perintah penangkapan terhadap Bapak Adi.” Tegasnya sambil memberikan surat itu padaku. Lututku serasa lemas tak kuasa untuk berdiri aku terduduk lemas terpaku di tempatku berdiri depan pintu. Ibuku turun dengan ayahku, Ibuku merangkulku memelukkku, aku merasakan ketakutannya juga tapi ia lebih kuat dari aku. Mungkin karena ibuku sudah tau masalahnya, sedangkan aku tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Ya saya pak, Adi" kata ayah tanpa ada nada kesedihan sepetinya ayah memang sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan yang terburuk ini.
"Bun, jaga anak-anak ya!" Ayah mencium Bunda
"Khanza, jaga Bunda, maafin ayah, nak!" memelukku dan menciumku sedangkan aku masuk mematuk berlutut dalam duduk simpuhku. Menangis pun tidak, seperti patung hidup saat itu.
"LP Cipinang...LP Cipinang" suara kondektur membuyarkan lamunanku siang pahit itu. Bergegas berdiri, bersiap untuk turun,mengyeka air mata yang tak terasa membasahi pipiku.
"Bang kiri ya!"
Memasuki Penjara itu untuk menjenguk ayahku, membawa sejuta rindu. Pelukan berhambur di tuhku Ayah, dia kurus sekali disini. Wajahnya semakin menua. Aku menangis melihat keadaannya dan berkata,
"Ayah sehat?"
"Sehat, nak?"
"Gimana kuliahmu?"
"Baik yah, mohon doanya yah, aku sekarang sambil kerja jadi penulis cerpen di salah satu majlah"
"Oh ya, Alhamdulillah"
"Yah, ni untuk ayah" sambil ku berikan beberapa bungkusan buah-buahan dan beberapa makanan kesukaan ayah yang ku beli dari gaji pertamaku.
Khanza, maafkan ayah nak, apakah nanti akan ada laki-laki yang menikahimu dengan kondisi ayah yang seperti ini? ayah tiba-tiba bicara hal itu terdengar lirih dalam nada bicaranya.
"Yah, jangan risau, insyaallah akan ada laki-laki yang dengan ikhlas menikahiku sekalipun kondisi ayah seperti ini, dan dia adalah laki-laki yang berhati berhati bersih. sekalipun Allah tidak mempertemukanku di dunia, kelak aku akan dipertemukannya di akhirat." sambil ku sandarkan kepalaku di bahu ayah saat seperti ini yang selalu ku rindukan. Bercengkerama dengannya, bersandar di bahunya.
"Ayah ni ku bawakan buku bacaan untuk ayah, dan buku tulis dan pulpen yang ayah suka, ayah juga suka menulis kan?" Ku belikan ayah buku La Tahzan (jangan bersedih)
"Dulu nak, waktu masih muda" sambil tersenyum padaku
"Yah, tulislah apa yang Ayah rasakan selama disini, siapa taw itu bisa jadi inspirasiku untuk menulis."
"Yaw sudah nak, terima kasih ya1"
"Yah, aku mapit ya, oh ya salam dari bunda, salam rindu katanya."
"Sampaikan juga salam rindu ayah untuk Bunda"
"Yah, terus mendekatlah sama Allah ya yah, Aku sayang ayah."
Aku pamit, pergi meninggalkan ayah, tepat dengan waktu berkunjung yang diberikan penjaga penjara itu sebelum aku masuk tadi. Aku menahan tangis dari tadi, aku tidak mau menangis di depan ayah, aku tidak mau menambah beban fikirannya. Aku hanya ingin, Ayah tau bahwa aku dan Bunda baik-baik saja.
Di ata Bumi Cinta
Weny Rosmaya
Sabtu, 16 Oktober 2010
Ingin Dia Bahagia
Ingin Melihat Dia Bahagia
Pagi yang cerah ni tak secerah hati-hati yang terluka oleh kata-kata dan amarah. Pelajaran yang membuat Amanda semakin ingin terus belajar dan memahami sebuah Universitas Rumah Tangga yang kelak kan ku alami nanti. Pengalaman memang guru terbaik, tapi tak selamanya pengalaman itu harus kita alami sendiri, kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Dia yang aku sayangi, hatinya terluka, kecewa, marah, bahkan menangis. Walau aku tak tahu jelas apa yang ada di hatinya, aku hanya ingin meraba hatinya yang terdalam, mencoba empati atas peristiwa ini. Perpisahan memang suatu hal yang menyedihkan tapi ini mungkin lebih baik untuk suatu kasus-kasus tertentu. Pernikahan selalu menarik untuk di perbincangkan dari mulai bahagia sampai permasalahannya. Inilah pengalaman yang dapat ku ambil hikmah dan pelajarannya. Dia berpisah dengan istrinya dan buah hatinya Silvia althofunnisa. Dua tahun pernikahannya ini, selau saja ada masalah yang ku dengar ketika ku pulang ke rumah. Memang ku liat Dia setelah menikah bukannya makin gemuk malah makin kurus,lusuh, kummel, kucel bagai tak terawat ironis memang,sudah punya istri ko malah seperti ini.
Pernikahan dan menjalaninya bukan suatu hal yang mudah untuk dilalui tanpa ilmu dan kesabaran. Untuk mempersiapkannya butuh banyak belajar apa itu pernikahan, bagaimana cara membangunnya, menjaganya, meronovasinya agar semakin indah. Menikah bukan hanya menyatukan dua insan yang berbeda tapi juga dua keluarga besar. Bagaimana bisa terbangun baik tanpa ilmu. Keluarga bak negara, negara dalam lingkup kecil bukan? Siapkah aku nanti membangun rumah taqwaku sendiri? Takutkah aku untuk meangkah nantinya dengan pengalaman pahit yang ada di hadapanku sekarang?
Aku mungkin seakan-akan tak memikirkan apa-apa karena aku jauh. Tapi aku memikirkan kondisi Dia. Apakah dia bahagia? Tertekankah dia? Tertekankah ia hingga kurus seperti itu? Ya Allah rasanya aku ingin sekali bicara berdua saja dengannya dari hati ke hati, jujur dengan apa yang ia rasakan.
Malam itu dia mengunjungiku, ingin bercerita sejenak katanya sambill mengambil usaha yang ku tawaran untuknya.
“De pengen cerita dulu, boleh gak?”
“Ada apa A’, Apa tadi ketemu dia dulu?” perlahan dia mulai bersandar
Terlihat dia sepertinya sangat lelah sekali dengan semua kejadian ini,
“Ya Allah kuatkan dia, jadikan ini salah satu tarqiyah dari mu ya Allah, jadinya dia dewasa dengan semua ini.” terbawa suasana aku menangis padahal tak boleh sepeti ini, Aku justru harus bisa menguatkannya tapi aku tak bisa menahan ini keluar dari cela mataku.
De, Aa gak mau kehilangan neng untuk selamanya...! lirih dalam bicaranya
Semakin membuatku menangis dengan kata-katanya yang mungkin dari hatinya yang paling dalam. Amanda semakin berfikir inikah rumah tangga dengan segara pernak-pernik masalah dan cobaan yang akan menghadangnya. Butuh kedewasaan dan pemahaman bagaimana kelak harus bersikap, so siapkan diri untuk jadi istri yang soleha dari sekarang.
Di atas Bumi Cinta
Di atas Bumi Cinta
Nikahi Aku, dengan Semesta Ilmu
Debar jantungku seakan tak mau berhenti, dag…dig…dug…ritmenya lebih cepat dari biasanya, menunggu saat-saat pintu langit terbuka menyambut gembira dua insan bersatu menggenapkan kesempurnaan din dalam janji suci pada Sang Ilahi. Malaikat pun bertasbih, langit menampakan keindahannya pagi ini menjadi saksi pernikahan kami, sunyi dalam ruang masjid penuh hidmat, Pak Penghulu memulai aji nikah,
“Saya nikahkan saudara Muhammad Andromeda Fahrizi bin Muhammad Bima Sakti dengan mas kawin Al-Qur’an beserta seperangkat alat sholat, uang satu juta, dan buku Sirah Sahabiah, Saya terima nikah dan kawinnya untuk diri Saya, Afifah Zahra Aurora binti Gema Putra Langit di bayar tunai.” Lanjut suami saya mantap
“Alhamdulillah”, lega hatiku melewati detik-detik mendebarkan dalam ruang semesta hatiku begitu juga para tamu undangan yang datang pada akad nikah kami.
Seusai akad nikah itu, disampaikan nasihat pernikahan oleh Ust. Ahmad guru ku sebelumnya dibacakan surat cinta dari langit, Firman Allah (Ad Dukhan 51-54).
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di tempat yang aman. Di dalam taman-taman dan mataair-mataair. Mereka memakai sutera halus dan sutera tebal, (duduk) berhadap-hadapan. Demikianlah..dan kami jodohkan mereka kepada bidadari bermata jeli.”
Dilanjutkan dengan nasihat pernikahan, yang beliau sampaikan, penuh haru, tak terasa air mata menetes di pipiku, tanganku refleks meminta kekuatan pada seseorang yang kini sangat berarti buatku, suamiku, dia mengerti gerak tanganku, dia menjabat tanganku menguatkan. Seakan hati kami bicara,
“Sayang kita lewati suka, duka ini bersama, membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah bersama di jalan cinta langit, dengan naungan kasing sayang semesta, bantu aku sayang untuk menjadi suami yang soleh, begitu juga suara hatiku, sayang bantu aku juga menjadi bidadari bermata jeli itu”. Ketenangan para tamu undangan yang mendengarkan nasihat pernikahan itu melengkapi susana saat itu.
Tak kuat tangisku menganak sungai, kalau tak ingat aku sedang memakai kedok dandanan bak ratu sejagad, rasanya ingin meneruskan tangisan ini, bersandar di peluknya dalam kehangatan cintanya. Ucapan selamat menghujaniku hari ini, kecupan sayang dari karib kerabat melayang di pipiku. Beberapa lirih berbisik di telingaku “selamat menempuh hidup baru, jadilah istri soleha, sahabatku.” Ada juga yang menjabat erat penuh makna seakan berbicara “Aku senang melihatmu bahagia sahabatku, selamat bekerja dengan cinta untuk suamimu.” Rasanya bahagia sekali melihat senyum-senyum kebahagian penuh doa untukku.
Siang mulai berganti malam, suara penyerumu telah diperdengarkan, langit malam dan bulan dalam mahkota peraduannya, menjadi saksi leburnya cinta kami. Malam pertama dengan dia suamiku, Muhammad Andromeda Fahrizi degup jantung ini kembali berdetak sangat kencang bahkan lebih kencang dari sebelumnya. Dzikirku tak henti-henti untuk menghelanya, “Ya Allah dekap aku dengan cinta dan kasih sayangmu, ijinkan aku membawaMu bersama ku dan dia untuk meleburkan cinta kami di malam ini.” dalam kamar aku menunggu setelah mempersiapkan diri. Suara ketokan pintuk berbunyi,
“Tuk…tuk…tuk…! tiga kali ku hitung sunnah sekali dengan keganjilannya
“Assalamualaikum…,” suara yang sangat ku kenal
Degup semakin kencang “Waalaikumussalam...,” ku jawab dengan pelan
“Assalamualaikum, Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam, wahai suamiku, masuklah! Aku sudah menunggumu!”
Mendekatiku dengan tatapannya yang tajam, hatiku semakin tak karuan, yang kubalut dengan senyuman menegangkan, mungkin dia juga dapat merasakan keteganganku. Semakin dekat, semakin dekat, lalu dia berkata dengan lembut,
“Sayang, kita sholat dulu!” perintahnya
“Ya” sambil ku beranjak dari tempat tidur pengantin kami
Kami shalat dua rakaat berjamaah bersama, cinta langit mengiringi kami malam ini, sebelumnya kami berbincang untuk merilekskan diri satu sama lain,
“Sayang, maukah kau mendengarkan sebuah kisah” sambil mengambil posisi duduk yang nyaman aku tepat berada dalam pelukannya dan suamiku berada di belakangku sambil bersandar ke mahkota tempat tidur kami.
“Apa sayang, tentang?” rasa penasaranku
“Bidadari bermata jeli itu” katanya sambil melayangkan senyuman padaku
“Ini kisah yang diriwayat oleh Al Imam Ath Thabrani sebuah hadits dari Ummu salamah, bahwa ia Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah padaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli…”
“Lalu Rasul menjawab apa yang?” tanyaku
“ Penasaran ya?” sambil mencolek hidungku bercanda
“Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau bak sayap burung Nasar.”
“Ehm…lalu, apa lagi yang ditanyakannya?”
“Aku (Ummu salamah) berkata lagi, “Jelaslah padaku ya Rasulullah, tentang firmanNya : Laksana mutiara yang tersimpan baik (Al-Waqi’ah 23)..!”
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tak pernah tersentuh tangan manusia…”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah : Di dalam syurga itu ada bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik (Ar-Rahman 70)…!
Beliau menjawab, “Akhlaqnya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Aku bertanya lagi, “Jelaskanlah padaku firman Allah : Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan baik.” (Ash Shaffat 49)…!
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada bagian dalam telur dan terlindung darikulit bagian luarnya, atau biasa yang disebut putih telur.”
Semakin mengharukan kisah yang diceritakannya, lalu aku menciumnya sambil berkata
“Terima kasih yang, telah menikahi aku dengan semesta ilmu yang kau miliki”
“Sama-sama yang, kau telah menerima ku dengan keikhlasanmu” dia juga menciumku
“Mau dilanjutkan?”
“Mau yang, bisakah aku menjadi seperti bidadari itu?”
“Tentu bisa, yang” jawabnya menyakinkanku
“Lalu Ummu salamah bertanya lagi” suamiku melanjutkan ceritanya
Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah: Penuh cinta lagi sebaya umurnya (Al Waqi’ah 37)…!”
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal dunia dalam usia lanjut dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Allah menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi, dan umurnya sebaya.”
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.”
Aku bertanya, “Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”
Tak terasa aku tertidur lelap sekali, malam itu terlewatkan begitu saja. Dalam pelukan hangatnya aku tidur dengan nyenyaknya sampai pagi datang. Aku terbangun melihat jam tepat menunjukkan pukul 03.00 pagi posisi kami tidak berubah aku masih dalam dekapan suami ku, begitu juga suamiku masih setengah terduduk.
“Yang, bangun shalat tahajut dulu yuk!” ajakku
“Kenapa tak membangun kan ku saat aku tertidur mendengar ceritamu semalam?”
“Gak tega, sepertinya kau terlihat sangat lelah sekali, untuk bergerak pun aku tak ingin, khawatir membangun kan mu, sayang.”
“Oh…Suamiku, so sweet, maafkan aku sayang!”
“Tidak apa-apa, sayang, yuk kita shalat dulu!”
Bersamanya ku merasakan ketentraman, Allah telah memeluk mimpi-mimpiku bersamanya. Perjalanan kami masih panjang untuk menyelami dalamnya semesta ilmu yang kami satukan untuk dipahami, dipelajari untuk perpadu melangkah bersama mengarungi alam raya ini. Seperti dalam untaikan kata Salim A Filah kami bersama untuk mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi dengan sebening prasangka, selembut nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.
Weny Rosmaya
Di Atas Bumi Cinta
Kamis, 14 Oktober 2010
Surat untukmu nak, dari calon ibumu!
Bismillahiromanirohim
Wahai anakku, bunda tulis surat ini dengan iringan doa yang selalu bunda panjatkan pada Sang Maha Pemberi. Semoga nanda dapat hadir ke dunia dalam keadaan sehat tanpa kekurang suatu apapun kemudian tumbuh menjadi wanita solihah maupun lekaki yang soleh yang selalu berada dalam ketakwaan kepada Allah dan ridhoNya di setiap aktivitas dan langkah yang nanda tempuh nanti. Sebagaimana dia Nabi Zakaria dalam Q.S Ali Imran : 38
“Di sanalah Zakariyya berdoa kepada Tuhan-nya seraya berkata, “Ya Tuhan-ku, berikanlah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”
Nanda, betapa rindu ini karena Allah untuk bersama menunggu kelahiranmu untuk bisa mendekap di pelukku dalam dahaganya rindu bunda padamu. Rindu yang hanya bunda bisa sampaikan dalam butiran tasbih kepada Allah yang mempercayai bunda untuk merawatmu, membesarkanmu, menjagamu, mengajarkanmu dan menuntunmu.
Nanda ijinkan bunda merasakan kebahagiaan ini, merawatmu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, membesarkanmu dengan segala pengorbanan dan perjuangan, menjagamu dari kerasnya ujian dunia, mengajarkanmu ketaqwaan dan keimanan dan menuntunmu untuk bersama-sama kita raih syurgaNya yang Maha Indah dan Luasnya. Nanda, kehadiranmu memberi kebahagiaan yang tiadatara kodrat bunda sebagai seorang wanita. Merasakan nanda ada di rahim bunda, tumbuh dan berkembang dari embrio sampai janin. Berdenyut dan berdetak dalam ritme jantung yang sama. Kebersamaan nanda dalam rahim bunda sangat hangat, erat, dalam kebersamaan, takkan kenal lelah, disaat bunda mengandungmu dan membawamu kemana pun dalam rahim ini sampai 9 bulan, dan akhirnya kau mendesak tak sabar untuk keluar dan membuktikan kasing sayang bunda kepada nanda. Sebagai mana Allah telah menjelaskan bagaimana proses penciptaanmu dalam rahimku.
Dalam surat cintaNya yang Maha Indah Q. S Al Mu’minun : 12-13
“Dan sesunggguhnya, Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati berasal dari tanah.Kemudian kami jadikan sari pati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh yaitu (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maha Maha Sucilah Allah, pencipta yang paling baik.”
Nanda, menjadi seorang ibu itu indah dan mulia. Tugasnya sangat berat tapi harus dijalankan dengan penuh keikhlasan sebagai ladang ibadah terhadap Allah yang telah menitipkan engkau kepada ku kelak. Walau nanti besar kecemasanku saat menanti kelahiranmu, takut bunda tidak dapat melihatmu. Kecemasan yang indah karena didasari oleh sebuah cinta. Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum pernah sekalipun bunda temui. Bunda akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Saat bahagia ini sangat bunda nanti-nantikan. Merasakan berartinya bunda untuk mu, menyusui mu, seperti yang telah Allah syariatkan kepadaku. Menimang mu dalam dekat hangatnya pelukan bunda, mengayunmu untuk sebuah ketentraman agar kau dapat tertidur dalam buayan bunda. Tangisanmu, rewelnya diriimu, bangunnya dirimu disaat seharusnya aku tertidur, itu semua untuk mengajarkan aku arti sebuah kesabaran dan ketulusan untuk menjalankan kewajibanku sebagai seorang ibu.
Bunda selalu membayangkan dan mendengar kisah-kisah pengalaman orang lain saat melahirkan. Ada seorang ibu yang menantikan kelahiran anaknya yang tak dapat diduga kapan datangnya. Usia kehamilannya sudah mencapai usia bulan ke-9 banyak orang yang bertanya padanya “kapan dugaan waktu lahirnya?” Katnya begitu banyak tanda ketika akan melahirkan. Tanda itu berbeda-beda pada setiap ibu. Ada yang diawali dengan lendir berwarna merah segar tanpa mulas. Ia beberapa jam merasa mulas-mulas yang tidak beraturan jarak antar mulas dengan jeda sekitar 30 menit. Mulasnya tidak lama cuma 1 menitan, katanya. Mulas semakin dekat waktunya bisa mencapai 15 menitan dan lendir tambah banyak. Lalu Ia di induksi (diberikan cairan penambah rasa mulas dan diberikan beserta cairan lainnnya dalam infusan kepada calon ibu terlebih dahulu). Akibatnya rasa mulas yang datang padanya sangat kuat sehingga bukaan bisa lebih cepat. Dari ceritanya itu, tak sedikitpun membuatku takut dan semakin aku ingin berjuang mengalami proses itu sendiri.
Walau bunda tau, melahirkan itu memang menyakitkan, tapi itu adalah jalan jihad untukku. Pengorbanan dengan mempertaruhkan nyawa untuk mu, takkan menggentarkanku, sayang. Rasa sakit itu akan hilang seketika, ketika melihat tubuh mungil, tangisanmu, merahnya warna kulitmu. Subhanallah, bahagianya bunda bisa melihatmu lahir ke dunia ini, sayang. Semoga bunda diberi keberkahan dan panjang umur sampai akhirnya nanti bunda bisa melihatmu tumbuh dan besar.
Bisa merawatmu, melihat bagaimana engkau tumbuh dari bayi kemudian bisa tengkurap, duduk, merangkak, merambat hingga akhirnya engkau bisa berjalan hingga berlari di atas kakimu sendiri, melihat senyummu, merasakan perkembangan kepintaranmu dari hari kehari. Semoga kelak ketika kau beranjak dewasa ku dekatkan kau dengan Allah yang memberimu penghidupan dan kesempatan untuk beramal di alam dunia yang fana ini.
Nanda, saat engkau nanti hadir dalam hidupku memberi warna baru, kucium, kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ayahmu. Sebagai bukti bunda dan ayahmu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Seiring waktu, saat kau telah dewasa kemudian menjalankan fase-fase hidupmu. Perlahan engkau akan mengerti arti hidup ini adalah perjuangan dan doa.
Nanda, bunda akan mengajarkanmu untuk dekat kepada pemilikmu yang sebenarnya. Membuatmu senantiasa berusaha memenuhi keinginan Pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena bunda atau ayahmu. Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan di cintai Allah. Inilah usaha terberatku Nanda, karena artinya bunda harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Allah. Keinginan harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Allah. Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Besar harapanku, agar engkau kelak menapaki jalan cinta para pejuang. Jalan yang bunda tapaki jua sekarang dan sampai bunda menutup mata. Kelak engkau dapat memahami arti sebuah pengorbanan dalam setiap amal-amal yang nanti kau lakukan. Membingkai segala pekerjaan dengan dasar keikhlasan dan keistiqomahan pada jalan yang lurus. Nanda, tanamkanlah di hatimu cinta yang Agung dan hakiki yang tak pernah lekang oleh waktu dan zaman. Jangan pernah terbuai oleh cinta semu yang hanya membawa engkau pada kemudharatan. Nanda, cintailah Allah, cintailah Rasulullah, cintailah Al-Qur’an dan orang-orang beriman. Kelak setiap pekerjaanmu akan mendapat berkah dan ridho dari Allah. Bingkailah setiap cinta yang kau rasakan, karena Allah melangkahlah dengan ketentuan yang telah disyariatkan Allah terhadap engkau dan aku.
Dari Firmannya Q.S At-Taubah : 105
“Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kalian, maka Allah dan RasulNya serta orang-orang beriman akan melihat pekerjaan kalian itu, dan kalian akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan hal-hal yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan (amalkan).”
Kemudian, kita pun memulai perjalanan bersama dalam jalan cinta para pejuang ini berdua, engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam. Bunda akan menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain. Agar kau dapat rasakan perjalanan ruhiah yang sebenarnya. Saat engkau mengeluh letih berjalan, bunda kuatkan engkau karena kita memang tidak boleh berhenti. Perjalanan mengenal Allah tak kenal letih dan berhenti, Nanda. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa dan menangis saat menjalankan amanah-amanah dalam hidupmu.
Hingga suatu saat nanti kau bertemu cinta yang suci karena Allah. Melangkahlah dan jangan ragu, bunda selalu ada untukmu. Bila nanti saatnya engkau akan pergi bersama seseorang yang kau pilih karena ketaqwaan, bunda akan tersenyum bahagia. Saat itulah membuat bunda sadar bahwa engkau bukan milikku atau milik ayahmu nanda. Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu. Engkau adalah milik Allah Nanda. Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu, walau Bunda selalu ingin kau ada disamping bunda sampai ajal menjemput bunda. Karena pengabdian semata-mata seharusnya hanya untuk Allah.
Akhirnya Nanda saat aku menghadap sakaratul maut untuk bertemu Allah, aku ingin kau ridho bunda menjadi ibumu. Begitu juga bunda ridho, bangga, bahagia mempunyai anak yang soleh dan solehah seperti nanda. Jika nanti, ketika semua manusia dikumpulkan dihadapan Allah, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia. Tapi kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Allah. Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari bunda yang senantiasa merindukan kehadiranmu........
Langganan:
Komentar (Atom)